PSEKP Gelar Stakeholder Meeting, Dorong Komersialisasi Pakan Hijauan untuk Perkuat Peternakan Sapi Perah

PSEKP Gelar Stakeholder Meeting, Dorong Komersialisasi Pakan Hijauan untuk Perkuat Peternakan Sapi Perah

Bogor, 7 April 2026 — Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) bekerjasama dengan Direktorat Pakan menggelar stakeholder meeting bertema “Komersialisasi Pakan Hijauan dalam Rangka Penguatan Ketersediaan Pakan Sapi Perah”. Pertemuan ini dilatar belakangi oleh isu klasik terkait ketersediaan pakan baik dari sisi akses lahan, keterbatasan kepemilikan lahan hijauan dan produksi hijauan pakan ternak (HPT) yang jauh dari mencukupi.  Diskusi ini menjadi ruang dialog antara pemerintah, akademisi, koperasi, dan pelaku usaha untuk mencari solusi atas persoalan pakan ternak yang selama ini menjadi tantangan utama di sektor peternakan.

Kepala PSEKP, Dr. Ir. Sudi Mardianto, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pakan masih menjadi faktor krusial yang sangat menentukan keberhasilan usaha peternakan, baik sapi perah maupun sapi potong. Beliau menjelaskan bahwa berdasarkan hasil kajian, tidak terjadi banyak perubahan dari sisi kepemilikan dan akses peternak terhadap lahan untuk produksi pakan dari tahun 1990-an, bahkan trend terkini menunjukkan peternak semakin sulit untuk mengakses lahan hijauan.

Fakta di lapangan menunjukkan hingga saat ini banyak peternak masih mengandalkan pakan khususnya rumput dari hasil mencari sendiri (ngarit), yang kualitasnya tidak selalu konsisten dan waktu yang semakin lama karena lokasi yang semakin jauh dan jumlah rumput liar yang terbatas. Kondisi ini semakin terasa saat musim kemarau, ketika pilihan hijauan terbatas. Akibatnya, kualitas dan produktivitas susu yang dihasilkan pun ikut terpengaruh.  Rendahnya tingkat pemahaman akan nutrisi di tingkat peternak juga menjadi alasan mengapa peternak tidak memiliki banyak opsi untuk pemenuhan sumber energi dan protein dari pakan ternak yang dikonsumsi serta minimnya pemanfaatan sumber pakan lokal.

“Ke depan, kita perlu mulai melihat skala usaha peternakan yang lebih realistis. Kapan peternak dapat memproduksi pakan sendiri, dan kapan perlu membeli sebagai bagian dari sistem usaha yang efisien,” jelasnya.

Diskusi dalam pertemuan ini juga menyoroti kondisi industri peternakan nasional yang masih menghadapi tantangan besar. Indonesia masih mengalami defisit produksi, baik daging sapi maupun susu. Ketergantungan terhadap impor pun masih cukup tinggi, yang menunjukkan bahwa sistem produksi dalam negeri, termasuk penyediaan pakan, perlu diperkuat.

Salah satu hal menarik adalah perubahan cara pandang terhadap pakan hijauan. Jika dulu pakan dianggap sebagai sesuatu yang “tersedia begitu saja” dan tidak memiliki nilai ekonomi, kini mulai dilihat sebagai komoditas yang dapat dikembangkan secara komersial. Bahkan, dalam jangka panjang, pakan hijauan memiliki peluang besar untuk memasuki pasar ekspor.

Namun demikian, untuk mewujudkan hal tersebut, masih ada sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Di antaranya adalah belum adanya standar kualitas pakan yang seragam, keterbatasan lahan produksi, serta rendahnya penggunaan pakan olahan di tingkat peternak. Selain itu, biaya produksi dan distribusi pakan juga masih menjadi kendala.

Karena itu, para peserta sepakat bahwa diperlukan dukungan kebijakan yang lebih kuat, mulai dari kemudahan akses pembiayaan, subsidi tertentu, hingga penguatan sistem sertifikasi pakan dan bibit hijauan.

Pertemuan ini juga menjadi ajang berbagi pengalaman dan praktik baik dari berbagai pelaku usaha dengan model bisnis yang berbeda-beda. Mulai dari pengembangan silase jagung, pemanfaatan lahan perkebunan sebagai sumber pakan, hingga peluang kerja sama antar pelaku usaha dan koperasi. Peran koperasi dinilai penting dalam membantu peternak kecil agar lebih mudah mengakses pakan berkualitas dan teknologi.

Menariknya, muncul pula gagasan untuk membangun semacam platform atau lembaga penghubung yang bisa menjembatani kebutuhan informasi, teknologi, dan pasar dalam bisnis pakan ternak, mulai dari hulu hingga hilir.

Sebagai tindak lanjut, PSEKP bersama para pemangku kepentingan akan menyusun rekomendasi kebijakan serta merancang model bisnis pakan yang lebih berkelanjutan. Pertemuan lanjutan juga direncanakan untuk memperdalam pembahasan dan memperkuat kolaborasi.

Melalui forum ini, diharapkan upaya komersialisasi pakan hijauan dapat semakin berkembang, sehingga mampu mendukung peningkatan produktivitas ternak dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor susu dan daging sapi.SSI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *