Bogor – Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP), Kementerian Pertanian menerima audiensi dari Pijar Foundation pada Rabu (23/04/2026) untuk membahas rencana pengembangan inisiatif Low Carbon Rice (LCR) atau beras rendah karbon di Indonesia. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pemerintah dan mitra pembangunan dalam mendorong transformasi sektor pertanian yang berkelanjutan dan rendah emisi.
Low carbon rice adalah metoda budidaya padi jejak karbon (carbon footprint) yang paling minimal atau budidaya padi rendah emisi. Inisiatif ini selaras dengan atensi global terkait pengurangan efek gas rumah kaca di sektor pertanian. Dalam audiensi tersebut, Pijar Foundation memaparkan perkembangan studi kelayakan (feasibility study) yang tengah dilakukan, termasuk pembelajaran dari pilot project seluas 100 hektare di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Inisiatif ini dikembangkan bersama Temasek Life Sciences Laboratory (TLL) dengan dukungan Philanthropy Asia Alliance (PAA), melalui pendekatan berbasis sains yang mengombinasikan penggunaan varietas padi adaptif, pengelolaan irigasi yang efisien, serta optimalisasi mikrobioma tanah.
Studi kelayakan ini bertujuan untuk mengidentifikasi model implementasi beras rendah karbon yang layak, kontekstual, dan dapat direplikasi secara luas. Analisis yang dilakukan mencakup empat dimensi utama, yaitu kelayakan teknis, kesiapan kelembagaan, potensi permintaan pasar dan nilai tambah bagi petani, serta aspek pembiayaan dan keberlanjutan program. Salah satu fokus utama adalah mendorong scaling up dari skala percontohan menuju implementasi yang lebih luas.
Menanggapi hal tersebut, Kepala PSEKP, Dr. Sudi Mardianto, M.Si., menekankan pentingnya pendekatan yang komprehensif dalam pengembangan inovasi pertanian. Menurutnya, keberhasilan implementasi tidak hanya ditentukan oleh aspek teknologi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi petani. Struktur usaha tani di Indonesia yang didominasi oleh petani kecil dengan luas lahan terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam adopsi teknologi baru. Selain itu, faktor seperti preferensi terhadap varietas, sistem pengelolaan lahan, serta dinamika sosial di tingkat lokal turut mempengaruhi tingkat penerimaan inovasi.
Dari sisi ekonomi, PSEKP menekankan bahwa insentif yang jelas menjadi kunci. Inovasi yang ditawarkan perlu mampu memberikan nilai tambah yang nyata bagi petani, baik melalui peningkatan produktivitas, efisiensi biaya produksi, maupun akses pasar yang lebih baik. Tanpa manfaat ekonomi yang langsung dirasakan, adopsi teknologi dinilai akan berjalan lambat.
Diskusi juga menyoroti pentingnya kesiapan kelembagaan dalam mendukung implementasi program. Identifikasi aktor kunci di tingkat lokal dinilai krusial untuk mempercepat proses adopsi serta memastikan keberlanjutan program. Selain itu, aspek pasar menjadi perhatian penting, khususnya terkait keberadaan off-taker dan potensi terbentuknya pasar khusus (captive market) untuk produk beras rendah karbon. Kepastian permintaan menjadi faktor utama dalam memberikan jaminan ekonomi bagi petani yang mengadopsi praktik budidaya rendah emisi. Aspek penting lainnya adalah rasa dari beras rendah karbon yang dihasilkan, varietas yang digunakan akan menghasilkan variasi rasa beras yang dikonsumsi dari yang pera hingga pulen. Faktor rasa ini akan sangat menentukan permintaan beras rendah karbon termasuk di dalamnya jalur tataniaga di lokasi pengembangan.
Dari sisi pembiayaan, diperlukan skema yang inovatif dan berkelanjutan, termasuk peluang blended finance dan keterlibatan sektor swasta. PSEKP menekankan bahwa pendekatan pembiayaan perlu dirancang secara profesional agar tidak menimbulkan ketergantungan terhadap bantuan pemerintah. Potensi pengembangan insentif berbasis karbon, termasuk carbon credit, turut menjadi bagian dari pembahasan. Namun, implementasinya di subsektor padi masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi emisi (MRV), serta skala usaha tani yang relatif kecil dan tersebar.
Sebagai tindak lanjut, kedua pihak sepakat untuk memperkuat komunikasi dan menjajaki peluang kolaborasi lebih lanjut, khususnya dalam pendalaman analisis sosial ekonomi dan penyusunan roadmap pengembangan. Melalui kolaborasi ini, pengembangan beras rendah karbon diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan ketahanan pangan sekaligus mendukung target penurunan emisi nasional menuju Net Zero Emissions (NZE) 2060.
