Bogor, 30 Juli 2026 – Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) melalui program IndoDairy-2 menyelenggarakan kegiatan Capacity Building Advokasi Kebijakan bertajuk “From Inclusive Leadership to Policy Influence: Developing a Policy Brief for Impact for Policy Analyst”. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Ismunadji PSEKP ini diikuti oleh analis kebijakan lingkup Kementerian Pertanian secara luring maupun daring.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Dr. Ir. Sudi Mardianto, M.Si. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa peningkatan kompetensi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan profesionalisme pejabat fungsional, termasuk analis kebijakan. Di tengah dinamika pembangunan yang semakin kompleks, analis kebijakan dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas agar mampu menghasilkan rekomendasi yang berkualitas dan memberikan nilai tambah bagi proses perumusan kebijakan.
Menurutnya, peran analis kebijakan sangat strategis karena setiap regulasi yang diterbitkan pemerintah perlu didukung oleh kajian yang kuat, baik dalam bentuk naskah akademik maupun policy brief. Dokumen tersebut menjadi dasar yang menjelaskan urgensi suatu kebijakan sekaligus memastikan bahwa kebijakan yang disusun benar-benar mampu menjawab permasalahan yang dihadapi.
Kepala PSEKP juga mengingatkan bahwa tugas analis kebijakan tidak berhenti pada penyusunan rekomendasi. Hasil analisis yang baik harus dapat dikomunikasikan secara efektif melalui proses advokasi kebijakan agar dipahami dan dimanfaatkan oleh para pengambil keputusan. Oleh karena itu, kemampuan menyampaikan rekomendasi secara persuasif menjadi kompetensi yang sama pentingnya dengan kemampuan melakukan analisis.
“Policy brief tidak hanya berfungsi menyampaikan rekomendasi, tetapi juga membantu memberikan perspektif baru terhadap suatu kebijakan. Karena itu, penyampaiannya harus dilakukan secara bijaksana, membangun pemahaman tanpa terkesan menggurui ataupun menghakimi,” ujar Kepala PSEKP.
Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Dr. Ir. Erry Ricardo Nurzal, M.T., M.P.A. dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pada sesi pertama, peserta memperoleh penguatan mengenai analisis kebijakan sebagai fondasi dalam penyusunan policy brief yang ringkas, berbasis bukti, dan berorientasi pada kebutuhan pengambil keputusan. Sesi berikutnya membahas strategi advokasi kebijakan agar hasil analisis tidak hanya berhenti sebagai dokumen, tetapi mampu memengaruhi proses pengambilan keputusan melalui komunikasi yang efektif.
Diskusi yang berlangsung interaktif menunjukkan tingginya antusiasme peserta dalam memperdalam pemahaman mengenai penyusunan policy brief dan strategi advokasi kebijakan. Berbagai pengalaman dan tantangan yang dihadapi analis kebijakan di lingkungan Kementerian Pertanian turut menjadi bahan diskusi untuk memperkaya perspektif peserta.
Melalui kegiatan ini, PSEKP berharap para analis kebijakan semakin mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang tidak hanya kuat secara substansi dan berbasis bukti, tetapi juga memiliki daya pengaruh yang lebih besar dalam mendukung penyusunan kebijakan publik yang berkualitas. Peningkatan kapasitas ini diharapkan menjadi salah satu langkah nyata dalam memperkuat peran analis kebijakan sebagai mitra strategis pemerintah dalam menghasilkan kebijakan yang efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat bagi pembangunan sektor pertanian.
